Kenapa Orang Berteriak Ketika Marah?

Kenapa Orang Berteriak Ketika Marah?

Seorang Syeikh berjalan dengan para muridnya, mereka  melihat ada sebuah keluarga yang sedang bertengkar, dan saling berteriak. 

Syeikh tersebut berpaling kepada muridnya dan bertanya : "Mengapa orang saling berteriak jika mereka sedang marah?".

Salah satu murid menjawab : "Karena kehilangan sabar, makanya mereka  berteriak."

"Tetapi , mengapa harus berteriak kepada orang yang tepat berada di sebelahnya?
Bukankah pesan yang ia sampaikan , bisa ia ucapkan dengan cara halus ?". Tanya sang Syeikh menguji murid2nya.

Muridnya pun saling beradu jawaban, namun tidak satupun jawaban yang mereka sepakati.

Akhirnya sang Syeikh  berkata : "Bila dua orang sedang marah, maka hati mereka saling menjauh. Untuk dapat menempuh jarak yang jauh itu, mereka harus berteriak agar perkataannya dapat terdengar. Semakin marah, maka akan semakin keras teriakannya.  Karena jarak kedua hati semakin jauh".  

"Begitu juga sebaliknya , di saat kedua insan saling jatuh cinta?" lanjut sang Syeikh.

"Mereka tidak saling berteriak antara yang satu dengan yang  lain. Mereka berbicara lembut karena hati mereka berdekatan. Jarak antara ke 2 hati sangat dekat."

"Bila mereka semakin lagi saling mencintai, apa yang terjadi?", Mereka tidak lagi bicara. Mereka Hanya berbisik dan saling mendekat dalam kasih-sayang. Pada Akhirnya , mereka bahkan tidak perlu lagi berbisik. Mereka cukup hanya dengan saling memandang. Itu saja. Sedekat itulah dua insan yang saling mengasihi."

Sang Syeikh memandangi muridnya dan mengingatkan dengan lembut : "Jika terjadi pertengkaran diantara kalian, jangan biarkan hati kalian menjauh. Jangan ucapkan perkataan yang membuat hati kian menjauh. Karena jika kita biarkan, suatu hari jaraknya tidak akan lagi bisa ditempuh"....

بارك الله فيكم ..

Copas dr bc,
Ust Ahmad Fajar Qomarudin
___

#SorrySendToAll

Follow me!
Ig/line: khairullah_kanzu

Pengorbanan Orang Tua

. " KISAH INSPIRATIF "
( Biarkan anak-anak ikut membaca )
 
Seorang pemuda melamar lowongan posisi manajer di sebuah perusahaan besar.

Dia lulus wawancara awal.
Sekarang akan bertemu dengan seorang direktur untuk wawancara akhir.

Dari CV-nya sang direktur mengetahui bahwa prestasi akademis pemuda itu sangat baik.

Dia bertanya, "Apakah Anda mendapat beasiswa di sekolah ...?"
Pemuda itu menjawab, "NO".

"Siapa yang membayar biaya sekolah ...?"
"Orangtua," jawabnya.

"Di mana mereka bekerja ......?"

"Mereka bekerja sebagai tukang cuci pakaian."

Direktur meminta pemuda itu untuk menunjukkan tangannya.
Pemuda itu menunjukkan kedua tangannya yang halus dan sempurna.

"Pernahkah Anda membantu orangtua Anda mencuci pakaian?"

"Tidak pernah.
Orangtua saya selalu ingin saya belajar dan membaca buku lebih banyak.
Selain itu, orangtua saya bisa mencuci pakaian lebih cepat dari saya."

Direktur mengatakan, 
"Saya punya permintaan. 
Ketika Anda pulang hari ini, 
pergi dan bersihkan tangan orangtua Anda.
Temui saya besok pagi."

Pemuda itu merasa sedih.
Ketika ia kembali ke rumah, 
ia meminta orangtuanya membiarkan dia membersihkan tangan mereka.
Orangtuanya merasa aneh.
Senang..., terharu... tapi dengan perasaan campur aduk,
Mereka menunjukkan tangan mereka kepada sang anak.

Pemuda itu membersihkan tangan mereka perlahan-lahan. 
Airmatanya meleleh perlahan saat ia melakukan itu. 
Ini adalah pertama kalinya ia melihat ......
Tangan orangtuanya begitu kusut, dan....
begitu banyak lecet di tangan mereka.

Beberapa luka lecet itu membuat mereka
mengeluh sakit saat ia menyentuhnya,

Ini adalah pertama kalinya pemuda itu menyadari 
bahwa sepasang tangan yang mencuci pakaian setiap hari inilah 
yang  memungkinkan dia untuk membayar biaya 
sekolah.

Lecet2 di tangan adalah harga yang harus dibayar orang tuanya 
untuk pendidikan, kegiatan sekolah dan masa depannya.

Setelah membersihkan tangan orangtuanya, 
pemuda ìtu diam-diam mencuci semua pakaian yang masih tersisa. 
Malam itu, orangtua dan anak berbincang untuk waktu yang sangat lama.

Keesokan paginya, pemuda itu pergi ke kantor direktur.
Direktur melihat airmata di mata pemuda itu, ketika ia bertanya:
" Apa yang telah Anda lakukan di rumah Anda kemarin ....?"

Pemuda itu menjawab,
"Saya membersihkan tangan orangtua saya, 
juga mencuci semua pakaian yang tersisa sampai selesai."

" Pelajaran apa yg Anda peroleh..? "

"Saya sekarang tahu apa artinya cinta dan pengorbanan orang tua saya. 
Tanpa orangtua saya, saya tidak akan menjadi diri saya hari ini "...

Dengan membantu orangtua saya, 
saya baru menyadari betapa sulit mencapai tujuan kalau dilakukan sendiri. 
Saya menghargai pentingnya saling membantu dalam keluarga."

Direktur mengatakan, 
"Inilah yang saya cari pada diri seorang manajer.
Saya ingin merekrut orang yang dapat menghargai bantuan orang lain. 
Orang yang tahu penderitaan orang lain untuk menyelesaikan sesuatu,
Orang yang tidak menempatkan uang sebagai satu-satunya tujuan hidup."

"Anda diterima kerja."

Wahai para orang tua.....
Seorang anak, yang terlalu dilindungi, 
dimanjakan apa pun yang ia mau, 
akan mengembangkan "mentalitas hak" dan 
akan selalu mengutamakan dirinya sendiri.

Dia akan mengabaikan upaya orangtuanya.

Jika kita menjadi orangtua yang terlalu melindungi, 
bukan berati mencintai anak-anak dengan cara yg benar.
Bukankah malah menghancurkan mereka...?

Boleh membiarkan anak tinggal di sebuah rumah besar, 
makan makanan yang baik, belajar piano, menonton TV layar lebar.

Tapi ketika Anda membersihkan rumah,
ajak mereka juga melakukannya.

Setelah makan,
biarkan anak2 mencuci piring dan mangkuk sendiri.

Bukan karena tidak punya uang untuk menyewa pembantu, 
tetapi karena ingin mencintai anak2 dengan cara yang benar. 
Agar mereka mengerti, kendati orangtua mampu. 
Suatu hari kita akan menjadi tua dan tak berdaya.
Betapa bahagia mempunyai anak yang mengerti.

Didik dan bimbinglah anak Anda 
agar belajar bagaimana menghargai jerih payah orang tua,
juga orang orang lain dalam mencapai tujuan. 

Semoga bermanfaat.
Indahnya berbagi 😊